Minggu, 09 Maret 2014

Paraben : Haruskah Kita Paranoid?

Hai!


Kali ini saya bukan mau review kosmetik atau curcol, tapi mau ngobrolin tentang salah satu ingredients dalam kosmetik yang banyak ditakuti para wanita : PARABEN. Seringkali dalam review-review kosmetik, bloggernya mencantumkan kandungan paraben sebagai nilai minus produk, sehingga para pembaca yang cupu terpengaruh & ikutan nge-judge produk itu buruk. 

Saya dulu juga termasuk pembaca yang nggak kritis, percaya amat dengan "mitos" semacam itu. Sampai sekarang juga masih cupu kok, makanya nggak ada salahnya kan kalo saya belajar. Ayo kita belajar bersama-sama. Saya memang bukan ahli kulit. Saya cuma mahasiswa Fakultas Peternakan yang minatnya seputar nutrisi unggas, tapi akhir-akhir ini hobi banget main ke website yang ditulis para dermatologist, wikipedia, dan baca jurnal ilmiah online seputar dermatologi. Membaca yang kayak gitu nggak rugi kok, biar nggak tersesat. Daripada nggak tau & nggak mau tau, hahaha.. 

Banyak baca biar nggak tersesat
Tinggal browsing apa susahnya?

Back to the topic.. Soal paraben, saya pernah mengulas sedikit di blog saya yang ini dan review facial wash yang ini. Singkat banget ya, makanya mau saya tulis lagi di post ini.


Baiklah, apa itu PARABEN?


Paraben adalah istilah untuk senyawa Para-hydroxy alkyl benzoates atau ester dari asam 4-hydroxy alkyl benzoat yang fungsinya adalah sebagai pengawet kosmetik & obat-obatan. Sifatnya adalah bakterisidal (pembunuh bakteri) & fungisidal (pembunuh jamur). Paraben juga digunakan sebagai food additive (zat tambahan dalam makanan).


R merupakan gugus alkyl (yaitu methyl, ethyl, propyl, atau butyl)

Paraben yang umum mencakup methylparaben, ethylparaben, propylparaben, dan heptylparaben. Yang kurang umum adalah isobutylparaben, isopropylparaben, benzylparaben, dan garam sodium (natrium) nya. 

Mengapa kontroversial?

Terlalu cepat mengambil kesimpulan

Pada tahun 2004, ada penelitian yang dilakukan oleh Darbre et al. yang menemukan adanya kandungan paraben dalam 20 sampel jaringan tumor payudara (rata-rata sebanyak 20 nanogram paraben/g jaringan). Philippa Darbre yang merupakan ketua tim penelitian (seorang ahli mikrobiologi asal UK) menyebutkan bahwa paraben tersebut terakumulasi di seperlima bagian payudara, yaitu bagian upper outer quadrant yang paling dekat dengan ketiak. Darbre menyatakan kemungkinan paraben tersebut berasal dari sesuatu yang dioleskan pada ketiak, seperti deodoran. 


Hal ini menjadi kontroversial. Philip Harvey, editor Journal of Toxicology (jurnal di mana artikel itu diterbitkan) mengatakan bahwa kesimpulan mengenai paraben sebagai pemicu tumor adalah terlalu dini, harus ada penelitian lebih lanjut mengenai itu. 

Penelitian yang dipimpin Kris McGrath dari Northwestern University tahun 2004 menyatakan bahwa ada korelasi antara kebersihan ketiak & penggunaan deodoran dengan kanker payudara. Diagnosis kanker payudara pada usia muda berkaitan dengan seringnya penggunaan antiperspirant / deodorant dan pencukuran rambut ketiak.


Hasil penelitian ini menyebabkan timbulnya dugaan bahwa paraben dalam deodoran & kosmetik lainnya dapat bermigrasi ke jaringan payudara & menyebabkan kanker. Namun masih tidak bisa dibuktikan kebenarannya, bahkan The American Cancer Society juga menyatakan bahwa diperlukan penelitian yang lebih mendalam untuk mengetahui  bahwa paraben memang menyebabkan kanker payudara.

Kenapa bisa begitu?

Rupanya paraben merupakan xenoestrogen (zat yang mirip estrogen). Estrogen adalah hormon yang secara alami diproduksi oleh tubuh wanita. Xenoestrogen memiliki aktivitas estrogenik dan mengacaukan mekanisme hormonal (menurut The Endocrine Society) sehingga kemungkinan dapat meningkatkan risiko kanker. Namun lagi-lagi tidak ada penjelasan ilmiah mengapa xenoestrogen semacam paraben bisa menyebabkan kanker payudara. Ada hipotesis bahwa sifat paraben sebagai xenoestrogen merupakan pemicu pubertas dini pada anak perempuan. 


Penelitian pada hewan membuktikan bahwa paraben punya aktivitas estrogenik yang sangat lemah. Butylparaben bersifat 100.000 kali lebih lemah daripada estradiol (hormon pertumbuhan bagi jaringan organ reproduksi), padahal dosis butylparaben yang digunakan dalam penelitian ini 25.000 kali lebih tinggi daripada dosis yang biasa digunakan sebagai pengawet kosmetik.

Aktivitas estrogenik paraben meningkat sesuai peningkatan panjang gugus alkyl, propylparaben bersifatlebih estrogenik karena lebih panjang dari butylparaben.

Beberapa estrogen diketahui dapat menyebabkan pertumbuhan sel tumor. Namun yang perlu dicatat, aktivitas estrogenik dan mutagenik itu tidak sama. Banyak kasus tumor terjadi akibat efek mutagenik, yang disebabkan oleh zat-zat radikal bebas, sama sekali tidak terkait dengan aktivitas estrogen.

Pada tahun 2005 paraben dinyatakan AMAN untuk digunakan dalam kosmetik karena dosis yang digunakan biasanya rendah, peluangnya sangat kecil untuk bisa memasuki jaringan & terakumulasi di dalam jaringan. Konsentrasi yang diijinkan maksimal adalah 0,4%.

Masalah lainnya seputar paraben

Hail penelitian yang dilakukan ilmuwan Jepang, Handa et al. (2006) dan Okamoto et al. (2008) menyatakan bahwa methylparaben yang dioleskan ke kulit jika bereaksi dengan sinar UV B akan meningkatkan risiko penuaan kulit dan kerusakan DNA. Jika kulit sudah dilindungi sunscreen yang mengandung anti UV B tentu saja hal ini tidak menjadi masalah.

Nagel et al. (1977) menyatakan bahwa paraben dapat menimbulkan alergi pada orang-orang tertentu (persentasenya kecil dibandingkan dengan populasi umum). Gejalanya yaitu iritasi, contact dermatitis, dan rosacea. Contact dermatitis itu berupa ruam disertai gatal & panas, kadang melepuh, seperti gejala jika terkena tumbuhan jelatang atau kena cairan pembersih lantai. Yang perlu diingat, zat allergen (penyebab alergi) itu tidak sama di semua orang. 

contact dermatitis

rosacea

Jadi, apakah aman?

Saya sendiri nggak bisa mengatakan paraben itu 100% aman, tapi juga nggak bisa bilang berbahaya. Menyimpulkan sendiri bahwa suatu zat itu aman atau berbahaya tanpa adanya bukti adalah suatu fitnah ilmiah *menirukan kata-kata dosen saya* apalagi saya bukan ahlinya.

Paranoid? Boleh aja, tapi jangan sampai melakukan fitnah ilmiah

Namanya juga jualan, promosi apapun dilakukan hahaha..

Kalo ada logo seperti ini, produk biasanya laris di pasaran

Sejauh ini saya baik-baik saja menggunakan produk ber-paraben. Saya nggak pernah lupa pake sunscreen, jadi nggak ada risiko reaksi methylparaben dengan UV B kan.. Saya nggak mengalami reaksi alergi. Berhubung saya nggak pernah pake deodeorant spray langsung di kulit, saya juga masih baik-baik saja. Sekali lagi, yang baik untuk 1 orang belum tentu baik untuk yang lainnya. 

Yah, gitu doang? Nggak apa-apa, biarpun ending-nya nggantung, yang penting bisa menambah wawasan *semoga* jadinya kita nggak langsung menelan mentah-mentah apa yang dikatakan artikel A - Z, iklan produk ini dan itu. 

Oke deh, sekian dulu. Terimakasih untuk kalian yang sudah mampir & menyempatkan diri membaca post ini.

4 komentar:

  1. komplit bgt pnjelasannya. isi blognya bagus!

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih yaa udah mampir kesini..

      Hapus
  2. nice info!! btw, aku kaget, tyt mbak Lintang mahasiswa peternakan ya? kupikir anak farmasi. habis resep2 DIYnya keren2 smua. sedikit mengingatkan saya dengan masa kuliah waktu bikin2 kosmetik pas praktikum. Salam kenal ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal kiky.. makasih ya
      hehehe.. iya, 100% anak peternakan. tapi suka banget DIY, gara2 kulit banyak nggak cocok sama kosmetik yg ada

      Hapus

Semua boleh komentar & kritik, asalkan jangan menyinggung suku, agama & ras, juga jangan menyebar spam. Spam berupa iklan dsb. akan dilempar ke tong sampah